Minggu, 24 April 2011

TARBIYAH JINSIYAH (PENDIDIKAN SEKS) DALAM KELUARGA MUSLIM

TARBIYAH JINSIYAH DALAM KELUARGA MUSLIM

Tarbiyah jinsiyah, dapat diartikan secara vulgar kedalam bahasa Indonesia dengan Pendidikan Seks. Kata tarbiyah jinsiyah kedengaran lebih santun, lebih enak dan berwawasan lebih luas ketimbang sekedar “pendidikan seks” saja. Selama ini berbagai pihak yang ahli dalam pendidikan sudah banyak mengusulkan bagaimana adanya pelajaran pendidikan seks bagi anak-anak dan remaja. Kita setuju, tapi harus ada batasan-batasan, apakah pendidikan seks menurut pola Barat itu sama dengan pendidikan seks pola Islam. Tentu saja tidak. Karena pendidikan seks pola Islam lebih mengacu kepada pendidikan ahlak yang berlandaskan kepada keimanan. Sedangkan pola pendidikan seks menurut cara berpikir Barat hanya mengajarkan “seksualitas yang sehat” meliputi: seks secara anatomis, fisiologis dan psikologis saja. Misal, cara mencegah kehamilan, tidak aborsi dan sebagainya.

Saya mendapatkan data bahwa di Indonesia sekarang memiliki problem seks yang sangat parah. Dari 40 juta remaja di Indonesia, sudah melakukan hubungan seks sebelum nikah. Dan sudah dapat dipahami, tentu saja dari 40 juta remaja itu, sebagian besar remaja Islam. Anak-anak dari keluarga Muslim. 25 sampai 40 persennya sudah melakukan hubungan kelamin sebelum menikah.

Sekitar tahun 1980-an penelitian di Yogya, siswa-siswi SMU sudah melakukan seks pranikah. Dan kita juga mendapatkan hasil dari sebuah penelitian, 200 ribu remaja di kota-kota besar sudah melakukan aborsi.

Tarbiyah jinsiyah dimulai dari pendidikan dalam keluarga, sebelum keluarga itu menyerahkannya kepada para pendidik dan lingkungan. Dari orang tualah si anak akan memahami dan memiliki wawasan apa yang disebut dengan syahwat. Nafsu ini ada dua. Pertama, nafsu yang dirahmati Allah SWT, kedua nafsu yang tidak dirahmati Allah SWT. Karena memang nafsu seks adalah sesuatu yang fitrah, maka Islam tidak mematikannya, tapi menyalurkannya sesuai jalurnya.

Dua Nafsu

Kalau nafsu yang tidak dirahmati Allah SWT berkembang, maka timbul berbagai jenis penyimpangan seksual. Misal, homoseks, lesbi, onani, masturbasi dan lain-lain. Nafsu ini akan berkembang dengan liarnya. Tidak terkendali karena dalam pelampiasannya tidak sesuai dengan aturan syariat. Ingin menjerumuskan pelakunya, timbullah perzinaan, perkosaan, karena nafsu ini tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Bagaimana solusi supaya nafsu-nafsu ini sesuai dengan nilai Islam ?

Allah SWT memerintahkan kepada hamba-Nya untuk menikah. Sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT adalah menciptakan dari jenis kalian pasangan-pasangan, supaya timbul ketentraman bersama mereka dan Allah SWT jadikan dengan pasangan ini rasa cinta dan kasih saying. Inilah Islam. Nafsu yang sudah fitrah ini jangan berkembang liar, tapi diberikan salurannya dengan pernikahan. Kata Rasul : Wahai pemuda, jika kalian sanggup menikah, menikahlah. Kejahatan pertama yang terjadi dalam sejarah manusia di dunia adalah kejahatan nafsu yang pertama kali dilakukan oleh anak pertama Nabi Adam. Nabi Yusuf juga hampir tergoda oleh nafsu seks Zulaikha.

Soal pertama dalam tarbiyah jinsiyah adalah masalah aurat. Secara anatomis, bagian tubuh wanita sangat menarik nafsu seks lawan jenisnya. Laki-laki main bola memakai celana pendek, tidak ada perempuan yang tergiur. Coba kalau perempuan main bola pakai celana pendek, banyak yang menonton bukan melihat bola yang ditendang, tapi melihat jenis “bola” yang lain. Jangankan aurat wanita dewasa, bahkan aurat anak-anak pun ada aturannya. Makanya di Pakistan, Afghanistan dan negara-negara Arab, sejak bayi anak perempuan sudah dibiasakan memakai syirwal (celana panjang). Ini bagus untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Mulailah dari Berpakaian

Rasulullah melarang perempuan melihat aurat perempuan dan laki-laki melihat aurat laki-laki. Ini salah satu antisipasi timbulnya penyelewengan seksual, seperti yang banyak terjadi sekarang ini. Ini dimulai dari lingkungan keluarga. Anak yang telah mencapai usia 10 tahun jangan dibiarkan tidur bersama saudaranya yang sejenis dalam satu selimut tanpa memakai pakaian. Dari keluarga inilah keluarga mulai menanamkan tarbiyah jinsiyah kepada anak-anaknya.

Menanamkan jiwa maskulin kepada laki-laki dan menanamkan jiwa feminim pada perempuan. Jadi kelaki-lakian itu sudah ditumbuhkan sejak dalam keluarga. Jangan laki-laki diberikan mainan perempuan atau sebaliknya. Sebab Rasulullah sangat membenci laki-laki yang berpakaian perempuan atau sebaliknya. Dan menurut penelitian, kelainan-kelainan syahwat tidak ada yang dimulai dari lahir. Ketika lahir semua dalam keadaan normal. Banyak sekarang waria atau laki-laki yang keperempuan-perempuanan. Ini dimulai dari lingkungan, sejak masih kecil, tidak ada yang sejak lahir. Dalam tarbiyah jinsiyah kita mengenalkan kepada anak-anak tentang mahram dan non mahram. Ini jarang terjadi dalam keluarga. Batasan mana yang mahram dan bukan mahram sama saja. Sehingga si anak bebas berbuat semaunya kepada siapapun, karena tidak mengenal mana mahram, mana tidak mahram. Kadang dia sangat akrab dengan sepupu, padahal dalam Islam, sepupu itu non mahram. Mereka boleh menikah.

Tarbiyah jinsiyah dimulai dengan mengajarkan pandangan, gadhul bashar. Ditujukan kepada laki-laki dan perempuan. Dalam pendidikan seks anak diajarkan bagaimana menjaga pandangan. Bukan berarti tidak melihat orang. Artinya, jangan pandangan diarahkan terus-menerus sampai lekat kepada lawan jenis. Menatap sampai rinci, ada jerawatnya berapa. Kita tahu, terjadinya perzinaan dimulai dari pandangan. Awalnya biasa, lama-lama saling tertarik, terus terjadi zina. Ini bisa dianalogikan dengan menonton gambar porno.

Adalah menjadi kewajiban orang tua untuk mengenalkan sanksi-sanksi perzinaan kepada keluarganya. Sanksi zina dalam Islam sangat berat. Agar mereka tidak mau berbuat zina. Dan orang tualah yang menjadi penanggung jawab utama terhadap dosa perzinaan anak-anaknya. Sudahkah anak dididik untuk tidak berzina?

Bagian dari tarbiyah jinsiyah adalah pemeliharaan anggota-anggota tubuh anak atau orang tua. Dalam kitab fikih ada bagian thaharah. Adalah merupakan kewajiban orang tua untuk mensosialisasikan kepada anak-anaknya bagaimana menjaga kebersihan kelamin untuk kepentingan thaharah.

Kepada anak-anak juga perlu dijelaskan bagaimana proses kejadian manusia. Dari nuftah, mudhghah dan seterusnya. Dari sini mudah-mudahan anak-anak itu sudah memiliki pengetahuan tentang tarbiyah jinsiyah secara benar dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Pengaruh Luar Rumah

Memang dampak dari pemahaman tarbiyah jinsiyah yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, luar biasa bahayanya, dunia akhirat. Salah langkah, terjadi penyesalan seumur hidup. Orang tua zaman sekarang betul-betul sangat berat untuk mendidik anak-anaknya, karena anak-anak dapat dengan mudah memperoleh informasi yang kebanyakan tidak baik dan bahkan menyesatkan dari luar lingkungan keluarga. Oleh karena itu dimulai dari keluarga, beri penjelasan kepada anak-anak, mudah-mudahan mereka punya daya kebal terhadap pengaruh buruk dari banyaknya informasi yang mencelakakan. Kalaupun dikuatirkan timbulnya perzinaan, karena pergaulan yang sangat bebas dan luas, barangkali tidak ada salahnya sebagai orang tua menawarkan untuk menikah saja, karena itu adalah jalan terakhir, pernikahan dini, tapi sebelumnya memang harus ada peringatan-peringatan, harus diberikan aktivitas-aktivitas, puasa, kalau semua tidak bisa baru menikah.

Kalau dengan menikah, walaupun benar ada kekhawatiran, tapi ada harapan, mudah-mudahan dengan menikah terjadi proses pendewasaan diri, sambil terus menerus dibimbing. Dari banyak data dan penelitian yang dilakukan, agresivitas seksualitas banyak terjadi pada laki-laki. Sehingga dalam hal ini perempuan lebih banyak menjadi korban dari agresivitas seksual laki-laki tersebut. Dan makin perempuan itu mencolok dalam berpakaian, makin laki-laki agresif. Masalahnya, bagaimana meredam gejala demikian, agar di satu sisi lelaki tidak terlalu agresif dan di sisi lain perempuan tidak menjadi korban dan objek seksual dari agresivitas seks laki-laki itu.

Gejolak seksual antara laki-laki dan perempuan sama saja. Kalau kita lihat kasus Nabi Yusuf, yang menggoda perempuannya dulu. Tapi karena rasa malunya yang membuat perempuan bisa tertahan. Bedanya kalau sudah berumah tangga. Umumnya para Ibu ada kendala karena capek. Sedangkan pada laki-laki tidak ada kendala alamiah.

Pendidikan seks ditujukan untuk mereka berdua dalam keluarga. Bagaimana sebuah keluarga itu mampu mendidik anak laki-lakinya dan anak perempuannya. Apabila mereka mampu mendidiknya dengan nilai-nilai ke-Islaman, yang intinya adalah keimanan.

Apabila dalam rumah tangga itu mampu mentransformasi nilai-nilai keimanan kepada anak-anaknya, Insyaallah di luar rumah mereka memiliki daya imunisasi terhadap godaan-godaan. Yang terjadi sekarang adalah banyaknya laki-laki yang senang melihat wanita-wanita yang berpakaian seronok. Karena mereka tidak terdidik didalam rumahnya. Begitu perempuannya, karena memang dari rumahnya mereka tidak diberikan contoh berpakaian yang baik.

Oleh karena itu Islam memberikan solusi dua arah, yaitu bagaimana laki-laki menjaga pandangan dan bagaimana perempuan menutup auratnya. Jadi kedua-duanya diperlakukan secara seimbang dan bersama-sama memiliki jalan keluarnya.

Kalau kita melihat contoh paling mulia dan terjadi di masa Rasulullah adalah bagaimana pemuda-pemudanya itu karena memiliki keimanan yang kuat mampu mempertahankan dan membela sahabiat-sahabiatnya.

Contohnya, terjadinya perang Qainuqa, berawal dari seorang sahabat yang mendengar jeritan seorang wanita. Sahabat ini (seorang pemuda) yang memiliki keimanan, spontan membelanya. “Mana laki-laki yang berbuat kurang ajar terhadap saudaraku itu”

Tak tanggung-tanggung, si lelaki Yahudi yang tukang emas itu dibunuh, karena emosi, telah merusak kehormatan orang lain sesama muslim. Ketika temannya itu dibunuh, yang lain teman-teman Yahudi ikut membunuh sahabat tersebut. Akhirnya sampai kepada Rasul, sampai diusirnya Yahudi Bani Qainuqa, sampai terjadi perang Qainuqa. Perang ini berawal dari kejahilan si Yahudi Qainuqa.

Islam memberikan pendidikan kepada anak-anak tidak hanya untuk mampu melindungi dirinya sendiri, tapi juga untuk mampu memberikan perlindungan kepada orang lain, karena tiap Muslim itu bersaudara.

-----oooooooo---

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar